KRISIS AIR di KOTA TERNATE

 

KRISIS AIR di KOTA TERNATE


Oleh

Irfandi Mustafa

 

 

            Air merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki fungsi sangat vital bagi kehidupan makhluk hidup yang ada di muka bumi. Untuk itu air perlu di lindungi agar tetap bermanfaat bagi kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya. Sehingga mampu mendukung kehidupan dan pelaksaan pembangunan daerah di masa kini maupun di masa mendatang. (Kurniawan, 2008).

 

Sudah tidak asing lagi terdengar nama Kota Ternate, salah satu kota tertua yang ada di Provinsi Maluku Utara. Dengan di kelilingi oleh laut yang secara astronomis berada pada posisi 0o – 2o Lintang utara dan 126o – 128o Bujur Timur. Luas daratan Kota Ternate adalah 250,85 km2. Sedangkan luas lautan 5,547 km2 dengan batas – batas Kota Ternate di sebelah Utara berbatasan dengan Laut Maluku, sebelah Selatan berbatasan dengan Laut maluku, sebelah Timur berbatasan dengan Selat halmahera, sebelah Barat berbatasan dengan Laut Maluku. (Sumber: BPS Kota Ternate, 2009).

Kota Ternate mempunyai ciri daerah kepulauan dimana sebagai Kota terbuka, siapa saja pendatang yang bisa berpenghuni dan berpindah di kota Tersebut, bisa pembebasan lahan dan menetap sebagai warga Kota Ternate, beda dengan Kota Tidore kepulauan di kenal dengan Kota Tertutup sehingga tidak ada di penduduk asing yang menetap di Kota Tidore. Banyak masalah di Kota Ternate seperti lingkungan. Salah satu unsur masalah terbesar yang ada adalah krisisnya Air bersih dan juga potensi bencana Alam di Kota Ternate.

 Keluhan warga Tongole terkait dengan krisis Air ini bukan tanpa dasar, bahkan sejalan dengan beberapa kajian yang telah di lakukan terkait kebutuhan dan produksi air di Ternate. Sebelumnya Balai Wilayah Sungai (BWS) Kementerian PU pernah mengeluarkan data yang mengatakan pada tahun 2030 nanti akan terjadi Ternate  bakal mengalami krisis air. Hal itu sejalan dengan kajian yang dilakukan oleh Akademisi Universitas Khairun.

Mohammad Ridwan Lessy, Nani Nagu, dan Rahim Achmad dalam jurnal yang berjudul “Vulnerability Assessment of Climate Change Impact on Small Island Water Resources” itu membahas soal bagaimana Ternate sebagai Kota kecil punya ancaman terhadap perubahan iklim yang berdampak pada sumber daya air. Menurut Jurnal tersebut pada tahun 2016, setiap orang di Ternate rata – rata menggunakan 150 liter air dalam sehari, dengan begitu ada 526.295 m3 air yang di konsumsi masyarakat Ternate setiap harinya. Sementara, produksi air di Ternate terindikasi terjadi penurunan. (Sumber: Kompas)

Sejumlah warga di Ternate, selain Tongole mengeluh terkait air bersih warga Tabona pun hal demikian, saat ada dari PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Ternate telah mengadvokasi terkait warga RT 13 Tabona telah mengalami krisis Air bersih. Seharusnya ada kebijakan rill dari Pemerintah Kota (Pemkot) untuk mengatasi masalah serius terkair air dan masalah lingkungan lainnya, di samping dari itu saya pernah menulis tentang “Masyarakat dan Nilai Air” yang selalu singgung akan persoalan air di Ternate. Sekarang Pemkot jadikan Danau Laguna sebagai sumber air bersih dan mendistribusikan kepada warga Ternate, tetapi spesifikasinya tidak berbanding lurus dengan apa yang diinginkan, selalu saja membawa dampak dan akan habis waktunya danau Laguna kalau terus menerus diambil sesuai kajian Akademisi Universitas Kahirun sebelumnya.

Di Pulau Hiri, sejak dari sekian lama sampai dilanda covid 19 ini tidak ada kebutuhan prioritas masyarakat pulau Hiri, banyak masyarakat pulau Hiri telah mengonsumsi air hujan karena air di Pulau Hiri terasa asin (salobar) bahkan di Sulamadaha pun air tidak layak dikonsumsi oleh Masyarakat. Dengan keadaan krisis seperti itu, Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Ternate bengis mamaksakan warganya untuk terus membayar pajak bahkan penambahan pembayarannya.

Ancaman krisis air ini sebenarnya sudah terasa sejak 2014, diawali mata air aAke Gaale di Kelurahan Sangaji Ternate Utara tercemar. Sumber air yang disedot PDAM tercemar intrusi air laut. Alhasil tak hanya sumur PDAM terdampak bahkan sumur – sumur warga pun terimbas, sekitar Oktober 2014, sumber air Ake Gaale yang berjarak kurang lebih 300 meter dari bibir pantai Sangaji ini terkena intrusi air laut, dari duru ada kolam ikan warga sekitar tetapi sekarang sudah tidak ada lagi. Sementara adapun implementasi kebijakan mengatasi air bersih di Kota Ternate sebagai kota perdagangan dan jasa dinamikanya tidak bisa di bendung, pada sampai saat ini kebijakan pemerintah Kota Ternate mengantisipasi krisis air bersih dengan cara revitalisasi beberapa wilayah yang selama ini menjadi daerah konservasi, seperti di area Kecamatan Ternate Utara, Kelurahan Sangaji dan beberapa Kelurahan lainnya dengan ketinggian permukiman warga lainny, selanjutnya kebijakan penghematan penggunaan air tetapi sampai pada cukup memahami kepada masyarakat untuk pemanfaatan air yang seefisien mungkin, kebijakan Rencana Sistem Pelayanan Air Minum, serta minimnya dukungan kebijakan anggaran. Sudah tidak ada alasan lagi bahwa Pemerintahan Kota tidak andil dan tidak mensuport persoalan yang paling serius (air bersih) di Kota Ternate.

Memasuki tahun baru 2021 ini, dengan adanya masalah tersebut bahwa pemerintahan Kota Ternate  di masa tahun sebelumnya tidak ada satupun terselesaikan soal krisis air bersih di Ternate, menjadi pmebelajaran buat Walikota akan mendatang sehingga ada progres kebijakan dan sungguh – sungguh mengatasinya.

Catatan: kita menyambut tahun baru dan pemimpin Kota Ternate yang baru 5 tahun kedepan, mempunyai komitmen untuk mengambil simpulan kebijakan paling utama adalah mengatasi air bersih yang ada di Kota Ternate sesuai dengan janji dan argumentasi pada saat debat kandidat calon Walikota dan Wakil Walikota kemarin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Erotisme dan Pornografi: Sebuah Catatan Filosofis Oleh:Gadis Arivia

Berkembangnya Kapitalisme Global (Pemikiran Frijof Capra: Strategi Sistemik Melawan kapitalisme Baru)

KRISIS EKOLOGI LINGKUNGAN DI MALUKU UTARA