PUISI: Menunggu Fajar

 

Menunggu Fajar

 

Renungan malam yang sepi ditemani bulan dan bintang di langit

Ku duduk sendiri meratapi dan memikirkan keajaiban seperti apa menjelang fajar

Kadang tersenyum sendiri, kadang memaksakan diri untuk merindu di malam sepi ini

Haruskah aku selalu seperti ini? Memikirkan sesuatu yang tak pasti terjadi padaku?

Pertanyaan yang aneh selalu saja yang aku pikirkan

 

Dengan waktu yang singkat sambil menunggu fajar

Kopi mulai dingin dan malam pun dingin, ku bakar rokok lalu  menikmatinya

Saat orang lain sedang terlelap menikmati malam-malam yang asik.

Tetapi diriku selalu saja ada perasaan rindu di separuh malam yang sepi itu.

 

Fajar pun mulai nampak, cahayanya begitu indah dipandang

Berharap fajar akan selalu menghangatkanku, selalu menyejukkanku

Selalu saja kutitipkan rindu di sudut kota ini

Serta kuberikan senyum dan mengingat senyumanmu itu

Mungkin akan menjadi pengobat rinduku.


I.M: Ternate, 20 Juni 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Erotisme dan Pornografi: Sebuah Catatan Filosofis Oleh:Gadis Arivia

Berkembangnya Kapitalisme Global (Pemikiran Frijof Capra: Strategi Sistemik Melawan kapitalisme Baru)

KRISIS EKOLOGI LINGKUNGAN DI MALUKU UTARA