SAMPAH BERSERAKAN, PEMKOT TERNATE TULI DAN BUTA
SAMPAH BERSERAKAN, PEMKOT TERNATE
TULI DAN BUTA
Oleh
Irfandi Mustafa
Alumni Geografi
Unkhair & Pengurus PMII Ternate
Sampah
adalah hasil buangan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik
(rumah tangga). Pengertian sampah
menurut Sudrajat (2008), menyebutkan bahwa sampah atau waste adalah hasil seluruh kegiatan dari suatu bahan
yang terbuang atau dibuang oleh manusia maupun alam dan belum memiliki manfaat
ekonomis.
Persoalan sampah tidak henti
hentinya untuk dibahas, karena berkaitan dengan pola hidup serta budaya
masyarakat itu sendiri. Kota ternate adalah salah satu kota yang mengalami
pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang cukup memicu meningkaknya kegiatan jasa,
industri, bisnis dan sebagainya di wilayah Ternate sehingga akan memicu
meningkatnya produksi limbah buangan atau sampah. Kota Ternate mengalami
permasalahan pengelolaan persampahan yakni masalah pengangkutan sampah,
berdasarkan data bahwa jumlah ketersediaan prasarana pengangkutan hanya mampu
mengngkut timbulan sampah sebesar 214 m³/hari, dinas kebersihan Kota Ternate,
(2012) sedangkan berdasarkan hitungan bahwa timbulan sampah tahun 2012 adalah
413 m³/hari didasari pada jumlah penduduk kota Ternate saat ini yakni 172.559
jiwa BPS Ternate dalam angka, (2011) bararti menyisakan 52% sampah tidak
terangkut ke TPA. Meningkatnya produksi sampah tanpa sistem persampahan yang
tepat diperkirakan menjadi alasan tidak terciptanya lingkungan yang bersih,
dikeranakan masih banyak sampah yang berhamburan di jalan dengan tidak adanya
tempat fasilitas pembuangan sampah yang memadai, selain itu kebanyakan
masyarakat di Kelurahan Bastiong membuang sampah di selokan, mengakibatkan
terjadinya banjir ketika hujan turun. Dan pada umumnya masyarakaat yang tinggal
di pesisir pantai sering membuang sampah di laut, sehingga mengakibatkan
masalah pencemaran lingkungan. (Sabua:
Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur).
Salah
satu jurnal yang saya cantumkan adalah bentuk dedikasi yang secara nyata
menyinggung soal sampah. Memang harus di sorot soal problem ini dengan jernih
dan harus ada kebijakan teknis dan bijak untuk Pemkot Ternate soal melihat
sampah yang setiap hari selalu ada di jalanan, selokan, pantai, gunung dan
sebagainya. Bukan hal yang baru lagi bahas soal sampah yang ada di Ternate, di
beberapa tempat yang memang terjadi penumpukan sampah. Dari beberapa hari
kemarin sempat viral di media sosial soal sampah yang berhamburan di jalanan
dengan bau yang busuk yang dihirup oleh warga sekitar serta warga yang
beraktifitas. Argumentasi bahkan selalu ada kata manis yang di keluarkan oleh
pemerintah Kota Ternate semenjak ada aksi menyingggung soal sampah beberapa
hari kemarin tetapi tidak ada aksi nyata yang di lakukan.
Dengan
dinas terkait yakni Dinas Lingkungan Hidup, gaya argumentasi dengan alasan
bahwa utang BBM (Bahan Bakar Minyak) tidak dibayar pihak ketiga sehingga tidak
ada proses pengangkutan sampah di TPS (Tempat Pembungan Sementara) ke TPA
(Tempat Pembuangan Akhir). Ini sudah menjadi masalah yang mendasar di Kota
Ternate, dari dua periode sampai pada tahap masa pemerintahan terakhir belum tuntas untuk penanganan sampah.
Dengan
masa pemerintahan terakhir ini sengaja atau tidak sengaja membiarkan sampah
tertumpuk dimana – mana, pastinya ada rasa kekecewaan yang dialami oleh warga
masyarakat Kota Ternate sebagai merespon hal tersebut. Pemkot telah membela
dirinya dan mengamankan posisi seakan mereka tidak ada salahnya terkait soal
pengelolahan sampah tersebut. sebelum itu aksi demi aksi demontrasi oleh
aktivis Lingkungan sesuai penumpukan sampah harus dikelolah dengan baik dan
benar karena polusi sampah akan berdampak pada kesehatan masyarakat dan
menimbulkan berbagai penyakit yang di bawah lalat, nyamuk dan sebagainya.
Memang
akhir – akhir ini dari pihak pemerintahan telah fokus untuk mengurus soal
politik san kegiatan lainnya, tetapi bukan dengan soal lingkungan, ada dari
pihak legislatif yang akan selalu menegur pemkot atau dinas terkait untuk
menangani soal sampah tersebut, harus ada sosialisasi sadar sampah di tingkatan
sekolah, di masyarakat terbuka dengan dalih pendekatan norma – norma hukum dan
keagamaan serta aksi nyata bagi pemkot untuk menangani, buka saja soal sampah
yang tertumpuk di Kelurahan Salahudin tapi ada beberapa tempat yang harus di
soroti dan di atasi oleh pihak pemerintah misalkan di Kampung Makassar,
Bastiong, Kalumata dan masih banyak lagi di ada sampah di mana – mana.
Dengan
tertumpuknya sampah tersebut membuat air yang ada di kota Ternate semakin krisis
untuk beberapa tahun kedepannya, ekosistem telah punah, pemkot seharusnya
melihat hal – hal berkaitan dengan lingkungan seperti itu. Memang presentase
distribusi sampah terbesar di Ternate adalah dari permukiman (rumah tangga)
dengan sedikit kesadaran soal dampak negatif tentang sampah. Tetapi dituntut
pemerintah untuk menangani permasalah tersebut sesuai yang saya tulis
sebelumnya. Banyak para akademisi dan pegiat lingkungan yang selalu membahas
soal sampah tersebut.
Kebijakan
utamanya harus pemkot sehingga ada gerakan dan subjek solusi untuk mengatasi,
masalah ini sudah lama di bijaki tetapi tetap saja tidak ada titik terangnya.
Tulisan ini memang lebih banyak saya salahkan soal pemkot di akhir ini karena
dengan keresahan masyarakat dan mosi tidak percaya kepada pemkot untuk
penanganan sampah tersebut. kasus yang sempat menjadi sorotan di beberapa hari
sebelumnya menjadi sebuah pemnelajaran untuk kepemimpinan di masa yang akan
datang.

Komentar
Posting Komentar